Sabtu, 09 Juli 2011

Yaitu : pengukuran tanda-tanda fungsi vital tubuh yang paling dasar.

Empat tanda-tanda vital utama tubuh adalah :

1. Tekanan Darah / tensi
2. Denyut Nadi
3. Respirasi ( Pernafasan)
4. Suhu Tubuh


Mengukur vital signs
Tanda-tanda vital berguna dalam mendeteksi atau pemantauan masalah medis, yang berkaitan dengan masalah kesehatan klien.


Tekanan Darah / Tensi
Tekanan darah, adalah kekuatan yang mendorong darah terhadap dinding arteri, Tekanan ditentukan oleh kekuatan dan jumlah darah yang dipompa, dan ukuran serta fleksibilitas dari arteri, diukur dengan alat pengukur tekanan darah dan stetoskop.
Tekanan darah terus-menerus berubah tergantung pada aktivitas, suhu, makanan, keadaan emosi, sikap, keadaan fisik, dan obat-obatan.

Dua angka dicatat ketika mengukur tekanan darah. Angka yang lebih tinggi, adalah tekanan sistolik, mengacu pada tekanan di dalam arteri ketika jantung berkontraksi dan memompa darah ke seluruh tubuh. Angka yang lebih rendah, adalah tekanan diastolik, mengacu pada tekanan di dalam arteri ketika jantung beristirahat dan pengisian darah. Baik tekanan sistolik dan diastolik dicatat sebagai “mm Hg” (milimeter air raksa). Rekaman ini merepresentasikan seberapa tinggi kolom air raksa diangkat oleh tekanan darah.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi, langsung meningkatkan resiko penyakit jantung koroner (serangan jantung) dan stroke (serangan otak). Dengan tekanan darah tinggi, arteri dapat mengalami peningkatan resistensi terhadap aliran darah, menyebabkan jantung memompa lebih keras untuk mengedarkan darah.
Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) dari National Institute of Health (NIH), tekanan darah tinggi atau hipertensi bagi orang dewasa didefinisikan sebagai:
tekanan sistolik 140 mm Hg atau lebih tinggi dan tekanan diastolik 90 mm Hg atau lebih tinggi
Dalam Pembaruan NHLBI pedoman untuk hipertensi pada tahun 2003, sebuah kategori tekanan darah baru ini ditambahkan disebut prehipertensi
yaitu tekanan sistolik 120 mm Hg – 139 mm Hg dan tekanan diastolik 80 mm Hg – 89 mm Hg
Panduan NHLBI baru sekarang mendefinisikan tekanan darah normal sebagai berikut:
tekanan sistolik kurang dari 120 mm Hg dan tekanan diastolik kurang dari 80 mm Hg
Namun angka-angka ini harus digunakan sebagai pedoman saja. Sebuah pengukuran tekanan darah tinggi tidak selalu merupakan indikasi dari suatu masalah. membuat diagnosis hipertensi (tekanan darah tinggi) tidak hanya dari pengukuran sekali saja namun perlu melihat beberapa pengukuran tekanan darah selama beberapa hari atau minggu sebelumnya.


Denyut Nadi 
Denyut nadi adalah jumlah denyut jantung, atau berapa kali jantung berdetak per menit. Mengkaji denyut nadi tidak hanya mengukur frekuensi denyut jantung, tetapi juga mengkaji :
irama jantung
kekuatan denyut jantung

Nadi normal untuk orang dewasa yang sehat berkisar 60-100 denyut per menit. Denyut nadi dapat berfluktuasi dan meningkat pada saat berolahraga, menderita suatu penyakit, cedera, dan emosi.


Suhu Tubuh
Suhu tubuh normal seseorang bervariasi, tergantung pada jenis kelamin, aktivitas, lingkungan, makanan yang dikonsumsi, gangguan organ, waktu. Suhu tubuh normal, menurut American Medical Association, dapat berkisar antara 97,8 derajat Fahrenheit, atau setara dengan 36,5 derajat Celsius sampai 99 derajat Fahrenheit atau 37,2 derajat Celcius.

Suhu tubuh seseorang dapat diambil melalui : 
Oral
Suhu dapat diambil melalui mulut baik menggunakan termometer kaca klasik atau yang lebih modern termometer digital yang menggunakan probe elektronik untuk mengukur suhu tubuh.
Dubur
Suhu yang diambil melalui dubur (menggunakan termometer gelas atau termometer digital) cenderung 0,5-0,7 derajat lebih tinggi daripada ketika diambil oleh mulut.
Aksilaris
Temperatur dapat diambil di bawah lengan dengan menggunakan termometer gelas atau termometer digital. Suhu yang diambil oleh rute ini cenderung 0,3-0,4 derajat lebih rendah daripada suhu yang diambil oleh mulut.
Telinga
Termometer khusus dengan cepat dapat mengukur suhu gendang telinga, yang mencerminkan suhu inti tubuh (suhu dari organ-organ internal).
Mungkin suhu tubuh abnormal karena demam (suhu tinggi) atau hipotermia (suhu rendah). Demam ditandai ketika suhu tubuh meningkat di atas 37 derajat Celsius secara oral atau 37,7 derajat Celsius melalui dubur, menurut American Medical Association. Hipotermia didefinisikan sebagai penurunan suhu tubuh di bawah 35 derajat Celsius.


Tingkat Respirasi 
Tingkat respirasi atau respirasi rate adalah jumlah seseorang mengambil napas per menit. Tingkat respirasi biasanya diukur ketika seseorang dalam posisi diam dan hanya melibatkan menghitung jumlah napas selama satu menit dengan menghitung berapa kali dada meningkat.

Respirasi dapat meningkat pada saat demam, berolahraga, emosi. Ketika memeriksa pernapasan, adalah penting untuk juga diperhatikan apakah seseorang memiliki kesulitan bernapas.

Respirasi normal untuk orang dewasa di kisaran sisa 12-20 kali per menit.


Sumber: http://www.healthsystem.virginia.edu/UVAHealth/adult_cardiac/vital.cfm

http://nursingbegin.com/vital-signs-atau-tanda-vital/

Sabtu, 12 Februari 2011

Unit ini berada di dalam divisi pendidikan. Seperti namanya, unit ini memiliki visi tercapainya anggota yang kompeten dalam melakukan Basic Life Support (pelayanan kesehatan yang digunakan pada pasien dengan cidera yang mengancam jiwa, sampai mendapatkan pelayanan medis penuh di fasilitas kesehatan, yang secara umum bisa dilakukan dengan peralatan minim, tanpa prosedur invasif dan obat)
Langkah-langkah tindakan resusitasi dapat dibagi menjadi tiga tahap:
1. Tahap I: Bantuan hidup dasar (BHD), terdiri atas:
A (Airway) : menguasai jalan nafas
B (Breathing) : membuat nafas buatan
C (Circulation) : membuat aliran darah buatan

2. Tahap II: Bantuan hidup lanjutan (BHL), terdiri dari:
D (Drug) : pengobatan dengan cairan dan obat
E (EKG) : melakukan pemantauan dengan alat elektrokardiografi
F (Fibrilasi) : menilai pengobatan dengan defibrilator (untuk fibrilasi ventrikel)

3. Tahap III: Bantuan hidup jangka panjang (BHJP), terdiri dari:
G (Gauging) : menilai keadaan korban masih dapat diselamatkan atau tidak 
H (Human mentatiaon): melakukan resusitasi lanjutan dengan orientasi otak
I (Intensive care): mengelola korban secara intensif
Apa yang akan anda lakukan jika anda menemukan seseorang yang mengalami kecelakaan atau seseorang yang terbaring di suatu tempat tanpa bernapas spontan? apakah anda dapat menentukan orang tersebut sudah mati ?

Seseorang yang mengalami henti napas ataupun henti jantung belum tentu ia mengalami kematian, mereka masih dapat ditolong. Dengan melakukan tindakan pertolongan pertama, seseorang yang henti napas dan henti jantung dapat dipulihkan kembali.
Tindakan pertolongan pertama yang dilakukan untuk memulihkan kembali seseorang yang mengalami henti napas dan henti jantung disebut bantuan hidup dasar, atau dalam istilah Inggris disebut Basic Life Support. 

Algoritma Bantuan Hidup Dasar

ü Jika menemukan seseorang (selanjutnya disebut penderita) dalam keadaan tidak sadar, lakukan :
* Perhatikan keadaan sekitar. Perhatikan dahulu keselamatan diri anda sebelum menolong orang lain.
* Periksa apakah penderita tersebut tidak responsif, lakukan dengan mengguncangkan tubuhnya atau panggil dengan nama sapaan.
* Mintalah bantuan 

ü Jika penderita tidak responsif, lakukan :
* Mulailah ABC, yaitu : 

Ø A, Airway. Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan napas. Ini meliputi pemeriksaan adanya sumbatan jalan napas yang dapat disebabkan benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur rahang bawah atau rahang atas, fraktur batang tenggorok. Usaha untuk membebaskan airway harus melindungi tulang leher. Dalam hal ini dapat dilakukan chin lift atau jaw thrust. Pada penderita yang dapat berbicara, dapat dianggap jalan napas bersih, walaupun demikian penilaian ulang terhadap airway harus tetap dilakukan.

Ø B, Breathing. Airway yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik. Pertukaran gas yang terjadi pada saat bernapas mutlak untuk pertukaran oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuh. Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding dada, dan diafragma. Setiap komponen ini harus dievaluasi dengan cepat. Periksa breathing dengan cara Lihat, Dengar, dan Rasakan.

ü Jika penderita bernapas :
Ø Jika pernapasannya optimal dengan frekuensi normal, tempatkan penderita pada posisi pemulihan.
Ø Jika pernapasannya tidak optimal dan frekuensinya lebih cepat atau lebih lambat dari normal, lakukan tiupan napas dengan 1 tiupan setiap 5 detik.
Ø Periksa denyut nadi pada daerah samping leher, tiap 30 sampai 60 detik.

ü Jika penderita tidak bernapas :
Ø Lakukan pernapasan dari mulut ke mulut (mouth to mouth) atau dari mulut ke hidung (mouth to nose), dengan tiupan napas perlahan. Lakukan 2 detik per tiupan napas.
Ø Periksa C (Circulation), dengan cek denyut nadi.

ü Penderita dengan sirkulasi :
Ø Mulai lakukan pernapasan buatan, 1 tiupan napas tiap 5 detik.
Ø Monitor terus denyut nadi tiap 30 sampai 60 detik.

ü Penderita tanpa sirkulasi :
Ø Mulailah kompresi dada
Ø Kombinasikan kompresi dan pernapasan buatan (disebut resusitasi jantung paru)
Ø Lakukan dengan 15 kompresi dan 2 tiupan napas.

ü Lakukan terus kompresi dan pernapasan buatan sampai ditemukan adanya denyut nadi dan pernapasan spontan dari penderita.

ü Jika penderita masih terus mengalami henti napas dan henti jantung, lakukan terus tindakan diatas sampai :
Ø Anda merasa lelah.
Ø Bantuan dari petugas kesehatan datang.


Sumber :
1)  http://www.forumbebas.com/thread-70046.html
2)  http://keperawatanku.blogspot.com/2010/02/bantuan-hidup-dasar.html
3)  http://tbmmpanacea.org/index.php/division/endidikan/basic-life-support
 
Copyright (c) 2010 Keperawatan Gawat Darurat. Design by WPThemes Expert

Themes By Buy My Themes and Direct Line Insurance.